Monica Huggett

Musik Adalah Hidupku

Eksekusi Pondok Pesantren di Nganjuk Dilawan Warga

Kapolsek warujayeng akp hariyanto membenarkan motif tersangka melakukan penganiayaan karena membela kakak perempuannya. Namun begitu alasan tersebut tidak dapat dibenarkan sehingga pelaku diancam pasal 363 kuhp.

Sementara itu suparman korban penganiayaan saat ini masih tergolek lemah di rumah sakit umum kertosono . Suparman menderita luka bacok selebar 22 centimeter dengan kedalaman 9 centimeter.

Seorang pelajar di nganjuk jawa timur tega mencabuli balita yang masih tetangganya sendiri. Pelaku mengaku terangsang setelah sering mengintip korban saat mandi.

Yoyok febrianto pelajar kelas tiga mtsn tanjung tani prambon nganjuk nekat mencabuli riska balita yang masih berusia lima tahun. Pencabulan ini dilakukan sebanyak dua kali ketika orang tua korban sedang pergi mengaji.

Menurut lukito pengacara tersangka peristiwa ini terbongkar setelah korban terlihat sering kesakitan saat buang air kecil. Setelah didesak ia mengaku telah dicabuli pelaku yang masih tetangganya sendiri. Mendengar hal ini orang tua korban dan pelaku berinisiatif menyelesaikan perkara ini secara kekeluargaan dan pelaku diusir dari kampung tersebut.

Polisi yang mendengar informasi ini segera menangkap pelaku untuk diproses secara hukum. Berdasarkan visum yang dilakukan kepada korban ia terbukti mengalami kekerasan seksual hingga beberapa kali.

Proses eksekusi tanah seluas 20 ribu meter persegi yang diatasnya dibangun tempat ibadan dan pondok pesantren di nganjuk jawa timur berlangsung ricuh. Warga yang bersimpati dengan pihak tergugat berusaha menghalang-galangi petugas. Tujuh orang ditangkap karena membawa senjata tajam dan memprovokasi warga lain.

Petugas polisi dari polres nganjuk langsung membubarkan hadangan pohon yang melintangi jalan menuju tempat eksekusi di desa mojokendil kecamatan ngronggot nganjuk. Polisi berupaya memecah konsentrasi massa dengan melakukan rasia identitas. Polisi menyisir sekitar tkp menemukan clurit dan petungan polisi juga menyita alat penyemprot hama yang didalamnya telah diisi bensin.

Tujuh pemuda akhirnya diamankan polisi di mobil rantis karena membawa senjata tajam dan memprovokasi warga lain untuk melakukan perlawanan. Menurut warga mereka terdorong melakukan pembelaan kepada pihak tergugat karena diatas tanah yang akan dieksekusi berdiri sebuah tempat ibadah dan pondok pesantren.